Quantum Litera Center dan Jendela Ilmu Nusantara: Optimalisasi Generasi Z Sebagai Provokator Literasi Berbasis Kearifan Budaya Lokal
Oleh: Dewi Trisna Wati
Institut Agama Islam Negeri Kediri
Seiring berjalannya waktu, inovasi teknologi nampaknya telah berhasil menggeser kebiasaan individu ke ranah digitalisasi. Implikasinya berdampak ke berbagai aktivitas, salah satunya budaya baca. “Read and write like breathing. Reading is taking a breath but, writing is outing it.” Membaca dan menulis diibaratkan proses bernafas. Ketika menarik nafas disebut membaca sedangkan, menulis ialah mengeluarkan nafas tersebut. Pernafasan akan terganggu apabila dipenuhi udara yang sesak. Begitupun baca dan tulis, seringkali sebuah ‘kesempitan' membengkalai proses membaca dan menulis. Kata ‘sempit' diartikan sebagai sedikitnya waktu menjelajah buku. Nafas dari sebuah ilmu hanya membaca. Bisa dipikirkan bagaimana jika ilmu akan mati apabila tidak dilakukan proses membaca. Baca dan tulis merupakan kegiatan intelektual. Membaca mampu merangsang imajinasi dan merogoh kedalaman suatu informasi yang belum pernah dijamah. Akibatnya, Keluasaan informasi masuk perlahan ke dalam otak manusia.
Dilansir dari CNN Indonesia bahwa minat baca tahun 2017 terbilang rendah yakni menempati 60 dunia. Sedangkan, literatur Kompas menyebutkan data dari UNESCO bahwa Indeks minat baca warga Indonesia 0,001. Ini berarti dari 1000 orang hanya 1 orang yang tertarik membaca. Berbeda dengan TribunJabar.id yang mengatakan bahwa tahun 2018 intensitas minat baca cenderung naik di atas 50℅. Mengapa demikian? Problematika ini bukan perkara simplistik yang mudah diselesaikan. Pasalnya, perbandingan konsumsi penduduk dewasa terhadap gadget, televisi, radio, koran/majalah dalam seminggu ternyata generasi sekarang atau dikenal dengan generasi Z memilih untuk menggunakan televisi dan gadget sebagai prioritas mereka. Akibatnya, kecenderungan terhadap buku semakin merosot. Hal ini ditambah lagi dengan sifat fear of missing out generasi Z yaitu sikap yang selalu memelihara eksistensi di media sosial menambah deret panjang dampak anjloknya budaya baca. Padahal, dengan tidak rajin membaca seseorang akan kehilangan langkah awal menuju pemahaman. Itulah salah satu alasan mengapa pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dibanding negara lainnya. Padahal, pendidikan di Indonesia sudah multidimensional mempunyai sistem, guru, dan kelas. Seharusnya, pendidikan bisa maju dan kalaupun tertinggal tidak akan jauh dari negara seperti Finlandia.
Selama kita masih menggunakan sosial media, maka selama itu pula, kita terus di bawah kontrol digitalisasi. Mirisnya, civitas akademisi, pemegang kuasa, pelajar tidak menyadari bahwa kita berada di bawah penjajahan secara ekonomi dan intelektual. Melihat kondisi demikian, diperlukannya solusi konkrit untuk menggait kembali antusiasme masyarakat mengenai minat baca. Apalagi mahasiswa, membaca bukan sekedar suatu kaleidoskopis semata, tetapi diharuskan wujud inkarnasinya dapat menyatu dengan apa yang termaktub dalam sebuah buku. Mahasiswa dituntut dapat memproduksi tulisan berkualitas dan diterima oleh masyarakat dengan baik.
Hal demikian bukan perkara yang mudah jika tidak didahului dengan proses yang panjang dan konsistensi maksimal. Kini banyak dijumpai tulisan via digital atau disebut blogger yang mengoperasikan teknologinya untuk mencari iklan yang mendatangkan uang. Mereka membuat blog dan menulis tulisan-tulisan pendek yang kadang tulisan copy paste. Tujuannya agar meningkatkan ratting jumlah pengunjung blog dan sebagian ada yang mendatangkan uang dari pendapatan akibat pemasangan iklan.
Akibatnya, tulisan yang dihasilkan bersifat kurang kreatif dan condong plagiatisme. Kenyataan demikian mendorong masyarakat berasumsi secara subjektif. Oleh karenanya, keurgensian membaca bagi mahasiswa ibarat peta yang digunakan mencari petunjuk menemukan harta karun. Sedangkan, buku ialah sebuah kunci untuk membukanya. Oleh karenanya, seorang mahasiswa mumpuni untuk membuka tafsir-tafsir keilmuan sesuai yang ia peroleh. Maudy Ayunda misalnya, seorang aktris dengan segudang prestasi. Sesudah lulus dari Oxford University dengan tiga gelar sekaligus, ia dibingungkan dengan pilihan dua kampus terbaik di jagad raya yakni Harvard University dan Stanford University. Bukan perihal seorang entertain, ia dapat berkesempatan kuliah di kampus tersebut. Maudy menuturkan bahwa kuncinya ialah gemblengan sedari kecil untuk terbiasa membaca buku. Karena dengan membaca, seseorang akan cerdas dalam mengekstraksi apa yang diketahui dari sebuah teori.
Namun, ketika sebuah konsepsi tentang buku tidak lagi mempunyai makna atau relevansi, ia akan diam-diam diabaikan dan digantikan dengan teknologi baru. Apalagi buku bertema tradisi lokal tentunya menjadi buku usang yang tertutup debu. Kemudian tergeletak begitu saja di perpustakaan. Generasi Z menjadi aksen untuk mengubah hal ini. Corak pemikiran yang hiper kustomisasi diharapkan mampu menggerakkan kontribusi mereka ke berbagai inovasi. Generasi Z ialah generasi yang lahir di tahun 1995-2012 dengan keunikannya bercorak figital (generasi yang eksis di dunia nyata dan virtual). Generasi Z juga sangat kompetitif dibanding generasi sebelumnya. Pemikiran kritis generasi Z itulah berdampak pada penciptaan sebuah inovasi. QLC (Quantum Litera Center) dan JIN (Jendela Ilmu Nusantara) adalah bentuk real dari implementasi optimalisasi generasi Z sebagai pemicu gerakan literasi masyarakat. QLC merupakan kolaborasi dosen-dosen, guru, mahasiswa, dan pelajar se-Kabupaten Trenggalek maupun relawan literasi lain yang memplokamirkan dirinya sebagai penggiat literasi. Gerakan ini mewadahi pelajar dan masyarakat umum yang menyalurkan karya tulis. Selain itu, gerakan ini sering mengadakan seminar tentang pentingnya membaca bagi kehidupan. Nama Nurani Soyomukti, Widhi Sudharto, Tosa Poetra, dan penulis era digital seakan menjadi lentera dalam sepinya baca dan tulis di kalangan masyarakat terutama pelajar mencakup tingkat dasar, menengah hingga Perguruan Tinggi. Beliau-beliau adalah pendiri QLC, sekarang mahasiswa dari berbagai jurusan ikut andil menegakkan kebiasaan yang selama ini mulai tergerus penjajahan teknologi. Seperti Ajir Cahyo, Dian Meiningitas, Nur Ria Widiarti, dan masih banyak lagi. Mereka berdedikasi penuh dalam gerakan literasi. Sedangkan, JIN (Jendela Ilmu Nusantara) gerakan yang bergerak di kecamatan Panggul merupakan gerakan yang tumbuh karena kesadaran anak-anak muda yang memperhatikan seni dan literasi. Gerakan ini mempunyai koleksi buku-buku yang terletak di rumah baca Kecamatan Panggul. Mereka yang tergabung dalam gerakan QLC dan JIN ialah provokator yang menggerakkan aksi. Hasilnya, banyak talenta yang dulunya tertimbun kini mulai mengepakkan tulisannya dan dirangkai menjadi buku. Salah satu bukti keberhasilan literasi yang digalakkan ialah terbitnya buku Lelaki Pengagum Hujan. Buku tersebut ialah buah karya dari mahasiswa dan guru. Keunikan dari dua komunitas ini ialah bertajuk nuansa lokal sehingga estetika identitas daerah bisa terpublikasikan.
Kesungguhan dua komunitas dapat dimodifikasi lebih baik kembali jika literasi dasar kian digencarkan. Literasi dasar ialah keterampilan budaya baca dan tulis yang dikaitkan dengan teknologi digital. Tujuannya ialah mencetak masyarakat berwawasan luas dan mampu memilih dan memilah informasi dengan berpegang teguh pada kearifan lokal berkesantunan. Kedua gerakan yang telah dicanangkan tersebut tidak menjadi kesia-siaan apabila mengkombinasikan media sosial sebagai fasilitator menyeminarkan budaya baca. Generasi Z yang lainnya dapat menjadi komunikator pegiat literasi baik melalui Youtube, Twitter, Facebook, blog, Wattpad, Instagram, dan sebagainya. Objek sasaran yang pasti adalah anak muda. Seorang komunikator bisa menyuguhkan video yang dikemas dengan komedi dimana terdapat konten mengajak anak muda agar gemar membaca. Dijelaskan pula, bahwa jika seseorang tidak membaca maka blunder di negara Indonesia semakin meningkat. Cara berikutnya ialah dengan berkolaborasi dengan beberapa komponen dan bersinergi serta bergerak bersama dalam hal mengembangkan minat/budaya baca. Mendirikan taman baca, misalnya. Selain itu, literasi bukan hanya sekedar mengajak masyarakat untuk membaca tetapi menyeminarkan tentang kebijakan dalam menggunakan media sosial dengan cara fast checking mengingat generasi sekarang secara sukarela percaya terhadap arus “uptuditas” karena merespon tulisan dengan mengikuti wacana zaman.
Di titik ini, terdapat kebanggaan pada era digital yang justru letak dari kelemahan yaitu perkembangan teknologi informasi ternyata belum melahirkan literasi media digital. Godaan besar mengajak membaca dan menulis untuk media digital adalah godaan visual dan fasilitas yang membuat membaca dan menulis jadi tidak fokus. Pada saat membaca suatu artikel atau berita, mata secara spontan tergoda untuk melihat iklan di sebelahnya.
Inovasi telah memetakan beragam cara mudah berliterasi. Untuk itu, agaknya usulan gagasan membuat aplikasi ‘Literasi Trenggalek” kemudian dipasang di PlayStore atau Google Play menarik bila diterapkan. Optimalisasi generasi Z dapat terealisasi jika semua pihak mendukung dan konsisten menjalankan agar anak Indonesia menjadi anak yang gemar membaca. Seperti di SMPN 1 Kediri, seorang guru telah menetapkan produk aplikasi digital bermuatan project based learning berbasis internet of thing untuk menunjang gerakan literasi menjadi saran efektif mewadahi dan mengembangkan kreativitas. Aplikasi tersebut dapat diadopsi oleh mahasiswa.
Cara lainnya, jika mahasiswa di Universitas PGRI Ronggolawe mengembangkan becak baca. Mahasiswa baik yang tergabung QLC, JIN maupun yang lain dapat mengikuti gerakan tersebut. Menciptakan, mobil baca bergerak misalnya. Bahkan, bisa bekerjasama dengan sekolah-sekolah atau Universitas untuk mengampanyekan literasi. Membaca bisa dimulai dari bacaan yang kecil, tapi kecil bukan berarti tidak berkualitas. Bacaan yang ringan namun berkualitas seperti cerpen berbau khas daerah. Kenapa dikatakan berkualitas karena jarang sebuah bacaan di era sekarang yang mengangkat demografis wilayah.
Kesimpulannya, seorang mahasiswa harus menjadi pelopor literasi sekaligus provokator. QLC dan JIN serta cara-cara yang lain yang telah disebutkan di atas hanyalah langkah awal mengubah keheningan dunia baca tulis. Seorang mahasiswa harus mampu beraksi menciptakan aplikasi yang menarik, mengajak seluruh masyarakat membaca walaupun merayu orang membaca buku tidak semudah mengajak untuk menggenggam gadget. Begitupun tentang budaya menulis. Menulis di sosial media lebih mudah dibanding menulis panjang tentang sebuah cerita yang menyayat, menyentuh, bermutu, tuntas, atau menulis secara komprehensif semakin dijauhi oleh banyak orang yang bahkan kalangan akademisi, dosen, mahasiswa, dan guru. Namun, nyali seorang mahasiswa provokator literasi tidak boleh menciut. Jadikan diri sebagai duta baca, menerbitkan buku cetak. Buku cetak diharapkan mampu mengimbangi budaya dangkal oleh tradisi digital.
Dalam proyeksi QLC, menerbitkan buku adalah salah satu kampanye membaca yang baik. Setidaknya, ada 30 orang yang pasti akan membaca buku dalam antologi cerpen Lelaki Pengagum Hujan misalnya. 30 orang telah mengabdikan karyanya ke dalam satu buku. Otomatis anaknya, pacarnya, suaminya, kerabatnya, kekasihnya, orang dekatnya, gurunya, mahasiswanya, muridnya, rekan kerjanya, dan siapapun yang berhubungan dengan penulis akan membaca buku tersebut. Itulah salah satu hasil konkret dari QLC menebarkan budaya membaca melalui penerbitan buku. Dunia hanya bisa terbuka jika membaca. Tidak salah bila kalimat mutiara yang selalu terpampang di dinding kelas adalah kebenaran hakiki. Buku adalah jendela dunia. Open your World by Reading. Read and read. Then, explore your dreams by Writing. You can die, but not with your writing.
Oleh: Dewi Trisna Wati
Institut Agama Islam Negeri Kediri
Seiring berjalannya waktu, inovasi teknologi nampaknya telah berhasil menggeser kebiasaan individu ke ranah digitalisasi. Implikasinya berdampak ke berbagai aktivitas, salah satunya budaya baca. “Read and write like breathing. Reading is taking a breath but, writing is outing it.” Membaca dan menulis diibaratkan proses bernafas. Ketika menarik nafas disebut membaca sedangkan, menulis ialah mengeluarkan nafas tersebut. Pernafasan akan terganggu apabila dipenuhi udara yang sesak. Begitupun baca dan tulis, seringkali sebuah ‘kesempitan' membengkalai proses membaca dan menulis. Kata ‘sempit' diartikan sebagai sedikitnya waktu menjelajah buku. Nafas dari sebuah ilmu hanya membaca. Bisa dipikirkan bagaimana jika ilmu akan mati apabila tidak dilakukan proses membaca. Baca dan tulis merupakan kegiatan intelektual. Membaca mampu merangsang imajinasi dan merogoh kedalaman suatu informasi yang belum pernah dijamah. Akibatnya, Keluasaan informasi masuk perlahan ke dalam otak manusia.
Dilansir dari CNN Indonesia bahwa minat baca tahun 2017 terbilang rendah yakni menempati 60 dunia. Sedangkan, literatur Kompas menyebutkan data dari UNESCO bahwa Indeks minat baca warga Indonesia 0,001. Ini berarti dari 1000 orang hanya 1 orang yang tertarik membaca. Berbeda dengan TribunJabar.id yang mengatakan bahwa tahun 2018 intensitas minat baca cenderung naik di atas 50℅. Mengapa demikian? Problematika ini bukan perkara simplistik yang mudah diselesaikan. Pasalnya, perbandingan konsumsi penduduk dewasa terhadap gadget, televisi, radio, koran/majalah dalam seminggu ternyata generasi sekarang atau dikenal dengan generasi Z memilih untuk menggunakan televisi dan gadget sebagai prioritas mereka. Akibatnya, kecenderungan terhadap buku semakin merosot. Hal ini ditambah lagi dengan sifat fear of missing out generasi Z yaitu sikap yang selalu memelihara eksistensi di media sosial menambah deret panjang dampak anjloknya budaya baca. Padahal, dengan tidak rajin membaca seseorang akan kehilangan langkah awal menuju pemahaman. Itulah salah satu alasan mengapa pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dibanding negara lainnya. Padahal, pendidikan di Indonesia sudah multidimensional mempunyai sistem, guru, dan kelas. Seharusnya, pendidikan bisa maju dan kalaupun tertinggal tidak akan jauh dari negara seperti Finlandia.
Selama kita masih menggunakan sosial media, maka selama itu pula, kita terus di bawah kontrol digitalisasi. Mirisnya, civitas akademisi, pemegang kuasa, pelajar tidak menyadari bahwa kita berada di bawah penjajahan secara ekonomi dan intelektual. Melihat kondisi demikian, diperlukannya solusi konkrit untuk menggait kembali antusiasme masyarakat mengenai minat baca. Apalagi mahasiswa, membaca bukan sekedar suatu kaleidoskopis semata, tetapi diharuskan wujud inkarnasinya dapat menyatu dengan apa yang termaktub dalam sebuah buku. Mahasiswa dituntut dapat memproduksi tulisan berkualitas dan diterima oleh masyarakat dengan baik.
Hal demikian bukan perkara yang mudah jika tidak didahului dengan proses yang panjang dan konsistensi maksimal. Kini banyak dijumpai tulisan via digital atau disebut blogger yang mengoperasikan teknologinya untuk mencari iklan yang mendatangkan uang. Mereka membuat blog dan menulis tulisan-tulisan pendek yang kadang tulisan copy paste. Tujuannya agar meningkatkan ratting jumlah pengunjung blog dan sebagian ada yang mendatangkan uang dari pendapatan akibat pemasangan iklan.
Akibatnya, tulisan yang dihasilkan bersifat kurang kreatif dan condong plagiatisme. Kenyataan demikian mendorong masyarakat berasumsi secara subjektif. Oleh karenanya, keurgensian membaca bagi mahasiswa ibarat peta yang digunakan mencari petunjuk menemukan harta karun. Sedangkan, buku ialah sebuah kunci untuk membukanya. Oleh karenanya, seorang mahasiswa mumpuni untuk membuka tafsir-tafsir keilmuan sesuai yang ia peroleh. Maudy Ayunda misalnya, seorang aktris dengan segudang prestasi. Sesudah lulus dari Oxford University dengan tiga gelar sekaligus, ia dibingungkan dengan pilihan dua kampus terbaik di jagad raya yakni Harvard University dan Stanford University. Bukan perihal seorang entertain, ia dapat berkesempatan kuliah di kampus tersebut. Maudy menuturkan bahwa kuncinya ialah gemblengan sedari kecil untuk terbiasa membaca buku. Karena dengan membaca, seseorang akan cerdas dalam mengekstraksi apa yang diketahui dari sebuah teori.
Namun, ketika sebuah konsepsi tentang buku tidak lagi mempunyai makna atau relevansi, ia akan diam-diam diabaikan dan digantikan dengan teknologi baru. Apalagi buku bertema tradisi lokal tentunya menjadi buku usang yang tertutup debu. Kemudian tergeletak begitu saja di perpustakaan. Generasi Z menjadi aksen untuk mengubah hal ini. Corak pemikiran yang hiper kustomisasi diharapkan mampu menggerakkan kontribusi mereka ke berbagai inovasi. Generasi Z ialah generasi yang lahir di tahun 1995-2012 dengan keunikannya bercorak figital (generasi yang eksis di dunia nyata dan virtual). Generasi Z juga sangat kompetitif dibanding generasi sebelumnya. Pemikiran kritis generasi Z itulah berdampak pada penciptaan sebuah inovasi. QLC (Quantum Litera Center) dan JIN (Jendela Ilmu Nusantara) adalah bentuk real dari implementasi optimalisasi generasi Z sebagai pemicu gerakan literasi masyarakat. QLC merupakan kolaborasi dosen-dosen, guru, mahasiswa, dan pelajar se-Kabupaten Trenggalek maupun relawan literasi lain yang memplokamirkan dirinya sebagai penggiat literasi. Gerakan ini mewadahi pelajar dan masyarakat umum yang menyalurkan karya tulis. Selain itu, gerakan ini sering mengadakan seminar tentang pentingnya membaca bagi kehidupan. Nama Nurani Soyomukti, Widhi Sudharto, Tosa Poetra, dan penulis era digital seakan menjadi lentera dalam sepinya baca dan tulis di kalangan masyarakat terutama pelajar mencakup tingkat dasar, menengah hingga Perguruan Tinggi. Beliau-beliau adalah pendiri QLC, sekarang mahasiswa dari berbagai jurusan ikut andil menegakkan kebiasaan yang selama ini mulai tergerus penjajahan teknologi. Seperti Ajir Cahyo, Dian Meiningitas, Nur Ria Widiarti, dan masih banyak lagi. Mereka berdedikasi penuh dalam gerakan literasi. Sedangkan, JIN (Jendela Ilmu Nusantara) gerakan yang bergerak di kecamatan Panggul merupakan gerakan yang tumbuh karena kesadaran anak-anak muda yang memperhatikan seni dan literasi. Gerakan ini mempunyai koleksi buku-buku yang terletak di rumah baca Kecamatan Panggul. Mereka yang tergabung dalam gerakan QLC dan JIN ialah provokator yang menggerakkan aksi. Hasilnya, banyak talenta yang dulunya tertimbun kini mulai mengepakkan tulisannya dan dirangkai menjadi buku. Salah satu bukti keberhasilan literasi yang digalakkan ialah terbitnya buku Lelaki Pengagum Hujan. Buku tersebut ialah buah karya dari mahasiswa dan guru. Keunikan dari dua komunitas ini ialah bertajuk nuansa lokal sehingga estetika identitas daerah bisa terpublikasikan.
Kesungguhan dua komunitas dapat dimodifikasi lebih baik kembali jika literasi dasar kian digencarkan. Literasi dasar ialah keterampilan budaya baca dan tulis yang dikaitkan dengan teknologi digital. Tujuannya ialah mencetak masyarakat berwawasan luas dan mampu memilih dan memilah informasi dengan berpegang teguh pada kearifan lokal berkesantunan. Kedua gerakan yang telah dicanangkan tersebut tidak menjadi kesia-siaan apabila mengkombinasikan media sosial sebagai fasilitator menyeminarkan budaya baca. Generasi Z yang lainnya dapat menjadi komunikator pegiat literasi baik melalui Youtube, Twitter, Facebook, blog, Wattpad, Instagram, dan sebagainya. Objek sasaran yang pasti adalah anak muda. Seorang komunikator bisa menyuguhkan video yang dikemas dengan komedi dimana terdapat konten mengajak anak muda agar gemar membaca. Dijelaskan pula, bahwa jika seseorang tidak membaca maka blunder di negara Indonesia semakin meningkat. Cara berikutnya ialah dengan berkolaborasi dengan beberapa komponen dan bersinergi serta bergerak bersama dalam hal mengembangkan minat/budaya baca. Mendirikan taman baca, misalnya. Selain itu, literasi bukan hanya sekedar mengajak masyarakat untuk membaca tetapi menyeminarkan tentang kebijakan dalam menggunakan media sosial dengan cara fast checking mengingat generasi sekarang secara sukarela percaya terhadap arus “uptuditas” karena merespon tulisan dengan mengikuti wacana zaman.
Di titik ini, terdapat kebanggaan pada era digital yang justru letak dari kelemahan yaitu perkembangan teknologi informasi ternyata belum melahirkan literasi media digital. Godaan besar mengajak membaca dan menulis untuk media digital adalah godaan visual dan fasilitas yang membuat membaca dan menulis jadi tidak fokus. Pada saat membaca suatu artikel atau berita, mata secara spontan tergoda untuk melihat iklan di sebelahnya.
Inovasi telah memetakan beragam cara mudah berliterasi. Untuk itu, agaknya usulan gagasan membuat aplikasi ‘Literasi Trenggalek” kemudian dipasang di PlayStore atau Google Play menarik bila diterapkan. Optimalisasi generasi Z dapat terealisasi jika semua pihak mendukung dan konsisten menjalankan agar anak Indonesia menjadi anak yang gemar membaca. Seperti di SMPN 1 Kediri, seorang guru telah menetapkan produk aplikasi digital bermuatan project based learning berbasis internet of thing untuk menunjang gerakan literasi menjadi saran efektif mewadahi dan mengembangkan kreativitas. Aplikasi tersebut dapat diadopsi oleh mahasiswa.
Cara lainnya, jika mahasiswa di Universitas PGRI Ronggolawe mengembangkan becak baca. Mahasiswa baik yang tergabung QLC, JIN maupun yang lain dapat mengikuti gerakan tersebut. Menciptakan, mobil baca bergerak misalnya. Bahkan, bisa bekerjasama dengan sekolah-sekolah atau Universitas untuk mengampanyekan literasi. Membaca bisa dimulai dari bacaan yang kecil, tapi kecil bukan berarti tidak berkualitas. Bacaan yang ringan namun berkualitas seperti cerpen berbau khas daerah. Kenapa dikatakan berkualitas karena jarang sebuah bacaan di era sekarang yang mengangkat demografis wilayah.
Kesimpulannya, seorang mahasiswa harus menjadi pelopor literasi sekaligus provokator. QLC dan JIN serta cara-cara yang lain yang telah disebutkan di atas hanyalah langkah awal mengubah keheningan dunia baca tulis. Seorang mahasiswa harus mampu beraksi menciptakan aplikasi yang menarik, mengajak seluruh masyarakat membaca walaupun merayu orang membaca buku tidak semudah mengajak untuk menggenggam gadget. Begitupun tentang budaya menulis. Menulis di sosial media lebih mudah dibanding menulis panjang tentang sebuah cerita yang menyayat, menyentuh, bermutu, tuntas, atau menulis secara komprehensif semakin dijauhi oleh banyak orang yang bahkan kalangan akademisi, dosen, mahasiswa, dan guru. Namun, nyali seorang mahasiswa provokator literasi tidak boleh menciut. Jadikan diri sebagai duta baca, menerbitkan buku cetak. Buku cetak diharapkan mampu mengimbangi budaya dangkal oleh tradisi digital.
Dalam proyeksi QLC, menerbitkan buku adalah salah satu kampanye membaca yang baik. Setidaknya, ada 30 orang yang pasti akan membaca buku dalam antologi cerpen Lelaki Pengagum Hujan misalnya. 30 orang telah mengabdikan karyanya ke dalam satu buku. Otomatis anaknya, pacarnya, suaminya, kerabatnya, kekasihnya, orang dekatnya, gurunya, mahasiswanya, muridnya, rekan kerjanya, dan siapapun yang berhubungan dengan penulis akan membaca buku tersebut. Itulah salah satu hasil konkret dari QLC menebarkan budaya membaca melalui penerbitan buku. Dunia hanya bisa terbuka jika membaca. Tidak salah bila kalimat mutiara yang selalu terpampang di dinding kelas adalah kebenaran hakiki. Buku adalah jendela dunia. Open your World by Reading. Read and read. Then, explore your dreams by Writing. You can die, but not with your writing.
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih